Jumat, 04 Oktober 2013

Pixcom AndroTab Mini Magnum Phablet 6 Inci dengan Prosesor Ganda

0 komentar
TeknoKeren.com - Walau perangkat phablet (phone tablet) tak sefavorit perangkat tablet, akan tetapi perangkat phablet mulai diminati masyarakat di Indonesia. Oleh karena itu, Pixcom Mobile menghadirkan di tanah air phabelt Android, yang diberi nama Pixcom AndroTab Mini Magnum.

Pixcom AndroTab Mini Magnum dikemas dengan layar berukuran 6 inci resolusi 480×800 piksel yang menggunakan jenis layar TFT Capacitive touchscreen Hi-Bright dengan kemampuan 5 poin multi-touch.

Disektor dapur pacu, Pixcom AndroTab Mini Magnum dipersenjatai dengan prosesor ARM Cortex-A9  berotak dua (dual-core) yang berkecepatan 1GHz dan didukung RAM sebesar 1 GB dan memeori internla berkapasitas 8GB +4 GB plus didukung slot memori eksternal jenis microSD yang bisa diperluas sampai 32 GB.
Pixcom AndroTab Mini Magnum
Pixcom AndroTab Mini Magnum talah dijalankan Android 4.0 ICS, akan tetapi sang vendor mengukapkan phablet ini bisa diupdate  ke versi Android 4.1 Jelly Bean. Kamera utama atau belakang dipersenjatai dengan resolusi 8 MP sedangkan kamera VGA disisi depan.

Sebagai media hiburan,  Pixcom AndroTab Mini Magnum ditanamkan TV Analog, pemutar audio/video dan Radio FM. Akses internet melalui jaringan 3G/HSDPA dan konektifitas tambahan lainya seperti WiFi, Bluetooth dan juga kabel data USB serta mendukung dua kartu SIM yang aktif bersamaan.


Penyuplai tenaga, Pixcom AndroTab Mini Magnum diperlengkapi baterai lithium ion berkapasitas besar yang ditenggarai sanggup standby selama 600 jam, dan talk time hingga 10 jam. Sayangnya, pihak vendor sendri belum membocorkan harga Pixcom AndroTab Mini Magnum. Kita tunggu saja.

Lihat juga: Iconia PC Tablet dengan Windows 8
Read more ►

Spesifikasi Pixcom AndroTab Mini Magnum Dual Core

0 komentar
Phablet baru dari Pixcom sob, layarnya 6-inch, Android ICS, dan siap upgrade ke Android 4.1 Jelly Bean.
memori internal besar.


Spesifikasi :
Network: Dual Sim Standby 3.5G & 2.75G
Dimensi : 166 x 91 x 10.7 mm.
Berat : 280 grams
Processor : 1Ghz Cortex-A9 DUAL CORE
Memory : 1 GB RAM
Storage : Internal 8GB+4GB
Configurable up to 32 GB
OS : Android 4.0 Ice Cream Sandwich, Upgradeadble to 4.1 Jelly Bean
Layar: 6-Inchi Hi-Bright LCD with 5 point multitouch, 480×800 pixel
Magnum Shadow Slide
Camera : 8MP (main) & VGA (front)
Audio : Built-in Microphone, 3.5 mm Earphone Speaker
Konektivitas : Wi-Fi Bluetooth


Baterai :
Li-Po
600 hours standby time
10 hours talktime
Read more ►

Rabu, 02 Oktober 2013

Regulasi Mini LNG Plant Mendesak

0 komentar
Anggota Komisi VII DPR Satya Wira Yudha menyatakan, pemerintah perlu segera menerbitkan regulasi atau peraturan yang khusus mengenai terminal pengangkut dan penerima mini liquified natural gas (LNG). Tujuannya adalah untuk memudahkan investasi para pemodal gas alam cair.

"Peraturannya yang khusus mengenai mini LNG belum ada, kami berharap pertengahan tahun depan sudah terealisasi sehingga memudahkan untuk investasi," kata Satya ketika tampil sebagai pembicara kunci dalam loka karya pengembangan teknologi Mini LNG yang digelar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya bekerja sama dengan Daewo Shipbuilding and Marine Engineering Co.Ltd, di Kuta, Bali akhir pekan lalu.

Menurut dia, peraturan khusus itu sebaiknya mengatur juga pemberian keringanan pajak bagi perusahaan yang mengembangkan mini LNG, dan alokasi gas tanpa adanya tender namun perjanjian langsung dengan melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Satya berpendapat, teknologi berskala kecil semacam mini LNG plan merupakan salah satu solusi dalam mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Dia mengingatkan, saat ini jumlah subsidi BBM sudah mencapai Rp192 triliun dan subsidi listrik Rp80 triliun. “Kami mendukung mini LGN ini karena bisa mengurangi beban subsidi, teknologi itu bisa dioptimalkan produksi gas dan kurangi subsidi itu,"katanya.

Mini LNG dalam kacamata Satya cocok untuk diupayakan mengingat banyaknya sumber gas dalam skala kecil di daerah terpencil. “Jika dibangun LNG plant terlalu besar dan tidak ekonomis, jadi mini LNG plant lebih cocok,” tuturnya. Tanpa mini LNG plant, maka sumber gas yang tersebar itu akan sulit dikomersialkan.

Adapun Tammy Meidharma, CEO PT Perta Daya Gas dalam kesempatan yang sama mengatakan, mini LNG merupakan pilihan yang potensial untuk mengangkut gas alam ke daerah penerima yang terpencil, ketika moda transportasi lainnya dinilai tidak ekonomis untuk kondisi geografis wilayah Indonesia Timur.

Tammy menyebutkan, tidak seperti daerah Jawa dan Sumatera, pembangunan jaringan pipa transmisi gas yang luas di wilayah Indonesia Timur tidak layak karena permintaan gas yang relatif rendah yakni hanya di kisaran 3 MMSCFD hingga 30 MMSCFD tidak sebanding dengan biaya modal investasi yang tinggi.

“Artinya jaringan pembangunan pipa di Indonesia Timur tidak cocok dibangun, untuk itu terminal pengangkutan dan penerima Mini LNG merupakan solusi yang strategis untuk menyeimbangkan kesenjangan antara pasokan dan permintaan sehubungan dengan kondisi geografis dan dan jarak antara pasokan gas dengan ke titik?titik penerimaan di daerah,” katanya.

Di sisi lainnya, PLN berupaya untuk mengganti BBM untuk operasional pembangkit menjadi bahan bakar gas untuk mengurangi biaya yang membengkak karena penggunaan solar untuk pembangkit tenaga listrik, dengan potensi penghematan sekitar US$5.400 juta per tahun.

Kondisi saat ini, listrik menyerap lebih dari 50 persen dari semua kebutuhan domestik akan gas dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 6?8 persen.

“Dengan pertumbuhan produk domestik bruto rata?rata sebesar 5,2 persen dalam perkembangan dekade ke depan Indonesia memosisikan diri untuk memperluas permintaan energi secara cepat, dan ekonomi domestik dan pertumbuhan permintaan energi nantinya menciptakan kesempatan untuk mengembangkan gas domestik dan bisnis LNG,” tuturnya. Perta Daya Gas mempunyai rancangan akan membangun terminal pengangkut dan penerima mini LNG di kawasan Indonesia Timur yang akan mendukung infrastruktur distribusi gas untuk pembangkit PLN di kawasan tersebut. Beberapa di antaranya,terminal penerima Mini LNG Pontianak, Tanjung Batu berkapasitas16 MMSCFD, Batakan 3 MMSCFD, Pesanggaran 20 MMSCFD, Maros 10 MMSCFD, Kupang Pomalaa 25 MMSCFD, Halmahera 30 MMSCFD. Sedangkan pemetaan untuk daerah terminal penyedia Mini LNG yaitu FSRU Jateng, Bontang, Donggi Senoro, dan Salawati.

Adapun Deputi Pengendalian Operasi Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Gede Pradnyana dalam lokakarya yang sama menjelaskan, alokasi gas untuk domestik terjadi peningkatan di atas 250 persen dalam 8 tahun terakhir. Pada 2004 sebesar 1.466 BBTUD menjadi 3.267 BBTUD pada 2011. Dari tiga sektor alokasi gas, industri yang paling dominan menyerap dari dua sektor lainnya yakni pupuk dan kelistrikan.

Untuk menggenjot permintaan alokasi gas domestik dan konsumsi minyak yang bertambah, Indonesia dalam jangka panjang akan menambah proyek pembangunan produksi gas dan minyak dalam jangka waktu tujuh tahun ke depan. Dari total 17 proyek. proyek gas mendominasi dengan jumlah delapan proyek, tujuh proyek untuk produksi minyak dan dua proyek minyak mentah.

Sumber : http://wartaekonomi.co.id/berita5961/regulasi--mini-lng-plant-mendesak.html

Read more ►
 

Copyright © Informasi terbaru Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger